Sabtu, 23 Januari 2016

Cerita: Natalan di Gereja Banteng dan Kegiatan Makan Siang Natal Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta - Part 2

Saya dan Anggi terkejut ketika berada di Gereja Banteng. Ada apa ya?

Sepanjang jalan dari pagar sampai pintu gereja, kami tidak begitu sadar kalau ada dua misa kategorial yang dilaksanakan pada jam 08.00, yaitu misa anak-anak dan misa dewasa. Ternyata kami menuju gereja tempat dilangsungkannya misa anak-anak! Wow! Meskipun wajah kami masih imut-imut dan masih "kecil", tetap saja kami bingung hehehe. Kami pun terpaku di depan gereja, sampai seorang ibu nyeletuk "Sudah masuk saja, ndak papa tho kita kembali ke masa kecil dulu." Akhirnya dengan sangat yakin kami masuk ke dalam. Baru saja masuk ke dalam dan mendapat tempat duduk, kami berdua disuguhi pemandangan luar biasa.

Orkestra Anak-anak Banteng, eh Maksudnya Gereja Banteng

Selanjutnya misa dimulai jam 08.00, dan diiringi koor anak-anak. Sayang organisnya orang dewasa. Ya kali! Banyak pemandangan unusual yang kami temukan di tempat ini, contohnya romo/pasturnya yang seperti Didi Kempot dan pakai topi sinterklas. Hehehe, saya kira mau konser, eh ternyata memang mau memimpin misa. Tidak lupa juga terdapat visualisasi kelahiran Yesus Kristus yang dilakukan oleh anak-anak Gereja Banteng. Sepertinya seluruh anak-anak di Gereja Banteng, baik yang drama maupun yang koor, telah mempersiapkan segalanya sedemikian baik, sehingga mereka tampil prima dalam perayaan Natal ini.


Visualisasi Kelahiran Yesus Kristus oleh Anak-anak Gereja Banteng
(Photo by Anggi)

Homili pun tidak kalah menarik, romo ini melakukan pendekatan yang luar biasa terhadap anak-anak. Romo mulai bertanya kepada anak-anak mengenai pertanyaan seputar Natal (yang saya yakin semua orang dewasa bisa menjawab). Anak yang bisa menjawab disuruh romo untuk maju ke depan sekaligus memperkenalkan diri. Tiba-tiba ada sinterklas datang dari Finland.....ndeso dan membawa sekantung hadiah. Yeay! Semua anak yang berada di depan bergembira. 

Anak-anak Sangat Antusias untuk Menjawab Pertanyaan dari Romo

Sinterklas dari Finland tapi Ndeso Membagikan Hadiah untuk Anak-anak

Kami yang notabene orang dewasa "tapi masih kecil" juga ikut merasakan kebahagiaan suasana yang terjalin dalam perayaan misa Natal. Sungguh perayaan yang luar biasa! Saya begitu tersentuh dengan adanya perayaan Natal ini dan berharap perayaan ini juga bisa berlangsung di setiap gereja. Oh ya, sekadar mengingatkan, jadi Gereja Banteng ini juga merupakan gereja skolastikat ordo MSF (Congregatio Missionariorum a Sacra Familia) yang merupakan salah satu ordo yang aktif berkarya di Keuskupan Agung Semarang. Biasanya para frater (calon romo) belajar di tempat ini untuk mempersiapkan dirinya menuju ke jenjang berikutnya. Oleh karena itu tidak salah bahwa di tempat ini juga terdapat sebuah patung pendiri ordo MSF, yaitu Pastur Jean-Baptiste Berthier.

Patung Pastur Jean-Baptiste Berthier

Selepas misa, kami segera bergegas menuju Gereja Babarsari yang merupakan tempat diselenggarakannya acara Makan Siang Natal Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta. Kami akhirnya tiba di tempat tersebut sekitar pukul 10.35. Mau tahu keseruan apa yang kami lakukan di sana?

Nantikan Cerita: Natalan di Gereja Banteng dan Kegiatan Makan Siang Natal Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta - Part 3!

Cerita: Natalan di Gereja Banteng dan Kegiatan Makan Siang Natal Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta - Part 1

Pada tanggal 25 Desember 2015, Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta mengadakan acara Makan Siang Natal di Gereja Babarsari, Jogjakarta. Berikut adalah kisah bagaimana saya terlibat dan merasakan sukacita natal bersama sahabat tercinta dan Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta.

Komunitas Sant'Egidio Bandung, tempat saya bernaung di Bandung, sedang mengadakan acara Makan Siang Natal untuk pertama kalinya. Akan tetapi saya sendiri ternyata tidak diperbolehkan orangtua untuk hadir di acara tersebut, karena menginginkan saya cepat pulang ke kampung saya di Jawa Tengah. Dalam hati, sebenarnya saya ingin untuk ikut serta hadir dalam kegiatan Sant'Egidio tersebut, sehingga saya mulai memutar otak untuk mendapatkan dua kesempatan itu secara bersama-sama. Alhasil, setelah saya menghimpun informasi, saya mengetahui bahwa ada kegiatan sejenis yang dilakukan oleh Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta. Saya pun segera pergi ke terminal Cicaheum untuk membeli tiket, dan saya mendapat satu kursi untuk keberangkatan tanggal 22 Desember 2015 jam 17.15. Tidak lupa saya menanyakan kontak Kak Iwan selaku senior dari komunitas Jogjakarta. Kata Kak Iwan, saya bisa datang ke Rumah Komunitas sekitar jam 10.00, ketika RuKom itu dibuka.

(Tanggal 22 Desember 2015)

Awalnya niat saya begitu lancar, sampai akhirnya "badai" presentasi RBL Elektronika membuat saya nyaris putus asa untuk berangkat ke Jogja atau menetap di Bandung untuk menyelesaikan RBL. Bayangkan saja, sampai hari-H keberangkatan jam 16.00, kelompok kami masih kebingungan dalam mengutak-atik RBL. Puji Tuhan, ternyata pada kesempatan yang sama, teman saya sudah ada yang pulang kampung dan tidak ikut mempresentasikan hasil RBL. Akhirnya saya segera tancap gas (padahal naik angkot) dari kampus menuju terminal Cicaheum, dan segera naik bis tujuan Jogjakarta. Waktu itu menunjukkan pukul 17.05.

(Tanggal 23 Desember 2015)

Saya tiba di Jogjakarta dalam keadaan yang tidak terduga. Waktu itu masih cukup pagi, jam 04.55. Setelah bingung karena harus menunggu lima jam, saya memutuskan untuk nongkrong di salah satu gerai fastfood di Jombor hingga jam 06.15. Selanjutnya saya jalan kaki ke Terminal Jombor untuk naik Trans Jogja, dan pergi melihat Malioboro. Sejuk.e rek! Untuk sekadar info, apabila Anda ingin berjalan-jalan di Malioboro dalam kondisi sepi, datanglah pagi-pagi sekitar jam setengah tujuh. Kalau sudah jam delapan atau sembilan, semuanya berubah dalam sekejap! Anda juga bisa berjalan-jalan ke Pasar Tradisional Beringharjo yang memiliki nilai historis dan filosofis bagi masyarakat Jogja.

Pemandangan Malioboro

Pemandangan Malioboro lainnya

Selanjutnya, saya mulai hingga akhirnya memutuskan jalan kaki ke titik nol Jogjakarta.

Titik Nol Jogjakarta yang Baru Selesai Dipugar dengan Batu Andesit

Masih bosan dan terkatung-katung, saya naik Trans Jogja (melewati kembali titik nol) dan saya berputar-putar naik bis tersebut sampai nyaris bosan. Kadang-kadang terpikir untuk langsung balik ke kota saya, namun hati kecil saya selalu bilang jangan. Akhirnya saya memutuskan tetap berada di Jogja. Akhirnya waktu menunjukkan pukul 10.00, saya segera bergegas ke RuKom dan tiba pukul 10.35. Saya bertemu Kak Aloy (ciee namanya sama ciee), Kak Siska, dan sahabat-sahabat lainnya. Mereka sangat welcome terhadap kehadiran saya, sehingga saya merasa tidak canggung. Saya juga berusaha membantu mereka dalam menyiapkan beberapa barang. Meskipun tidak banyak, saya berharap apa yang saya lakukan dapat meringankan beban mereka. 


Sahabat Komunitas Sedang Mencuci Piring


Sahabat Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta

Malamnya, saya balik ke kota saya dan tiba pada pukul 23.45 di rumah dengan selamaaaat.

(Tanggal 24 Desember 2015)

Sejak lama saya sudah menawarkan ke sahabat saya, apakah dia mau ikut dengan saya untuk berangkat ke Jogjakarta, dan dia berkata "Ya". Nah, pada hari tersebut saya konfirmasi lagi ke sahabat yang saya ajak serta untuk ikut kegiatan di Jogjakarta. Puji Tuhan, dia mau ikut. Ada teman deh hehehehe

Bapak saya mengatakan bahwa saya harus tetap berada di rumah pada tanggal 24 karena ada acara. Alasan itulah yang membuat saya rela untuk pergi malam hari dari Jogjakarta. Otomatis saya tidak dapat ikut membantu mempersiapkan acara natal. Sedih juga, sih.

Meanwhile in Jogjakarta...
Para sahabat Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta masih berkutat untuk mempersiapkan acara dengan baik.


Membungkus Kado di Rumah Komunitas dalam Rangka Persiapan Acara Makan Siang Natal
(Photo by Sham Ambrosius)

Para Sahabat Komunitas Mempersiapkan Meja dan Kursi di Halaman Gereja Babarsari
(Photo by Sham Ambrosius)

Pada Sahabat Komunitas Mempersiapkan Panggung dan Menghias Meja
(Photo by Sham Ambrosius)

(Tanggal 25 Desember 2015)

Sebenarnya, kegiatan Makan Siang Natal dimulai agak siang, namun saya "mengejar" misa Natal pagi di Jogjakarta. Alasan saya jika saya misa Natal di kota saya dulu, maka jalanan akan segera macet dan saya tiba dengan kondisi terlambat. Apadaya, kegiatan bangun pagi dan berangkat subuh nyaris "wacana" dan akhirnya saya berangkat jam 05.15 dari rumah, kemudian tiba di rumah sahabat saya jam 05.30, dan cuzz langsung ke Jogjakarta.

Ladies and Gentleman, Perkenalkan Sahabat Saya,
Anggi, Anak DKV yang Menantikan Cinta dari Dia

Awalnya kami ingin ikut misa jam 07.30 di Babarsari, eh boro-boro, misa sudah mulai, kami masih sampai di Jombor. Alhasil, berdasarkan bantuan Google Maps (terima kasih Mbah Gugel), kami mendapat wangsit untuk pergi ke Gereja Banteng (Jalan Kaliurang). Dengan sisa waktu 30 menit, kami tiba di Gereja Banteng dengan selamat. Saya dan sahabat segera masuk ke dalam gereja. 

Astaga!!....

Apa yang terjadi ya? Baca Cerita: Natalan di Gereja Banteng dan Kegiatan Makan Siang Natal Komunitas Sant'Egidio Jogjakarta - Part 2!

Jumat, 22 Januari 2016

Pemahaman Agama: Roda Kehidupan Rohani

Bila anda membaca post berjudul Pilihan, mungkin anda merasa bingung dengan pembahasan yang berputar-putar. Ya, karena sebenarnya saya ingin menunjukkan kepada anda tentang pilihan sebagai bagian dari kehidupan. Pilihan mungkin adalah sesuatu yang dibenci kebanyakan orang, namun saya ingin menunjukkan esensi dari sebuah pilihan. Dalam post kali ini, saya ingin membahas tentang cara yang Tuhan berikan dalam memahami sebuah pilihan, bahkan memahami tentang kehidupan itu sendiri.

Mungkin juga anda bertanya-tanya mengapa judul dari post kali ini adalah Roda Kehidupan Rohani (RKR)? Karena RKR adalah sebuah konsep yang berakar pada cara diri sendiri untuk memahami Allah sebagai jalan kebenaran. Sekali lagi mungkin pos ini terlalu bertemakan rohani kristiani, namun sebenarnya juga dapat dikorelasikan pada kerohanian setiap agama. Dalam post Pilihan, saya menulis ada cara untuk membuat diri menjadi lebih peka akan rencana Allah, dan RKR adalah cara yang saya maksud. Mari kita lihat filosofi dari nama RKR tersebut.

"Bis tanpa roda? Bagaimana mungkin?"

Roda sering sekali dihubungkan dengan hal yang berbau dinamis dan memberi kemudahan, membantu penggunanya dalam membawa suatu barang atau transportasi. Bayangkan apabila bis tidak ada rodanya! Roda juga sering dikaitkan dengan kehidupan. Ya, tentu saja anda sering mendengar istilah "roda itu berputar, kadang di atas, kadang di bawah". Roda dalam RKR ini juga terkait akan kehidupan, yaitu melambangkan kehidupan rohani kita agar selalu dinamis dan menyesuaikan kondisi saat ini. Itulah mengapa sebabnya dinamakan Roda Kehidupan Rohani.

Melalui filosofi tersebut, Roda Kehidupan Rohani memiliki elemen-elemen penting dalam menunjang pergerakan hidup rohani. Kebetulan sekali sebelumnya bahwa konsep RKR ini dikenalkan oleh Pak Gig (guru agama SMP saya) kepada murid-muridnya. Dalam setiap penjelasan, Pak Gig selalu mempunyai analogi mengenai elemen-elemen RKR dengan kebiasaan yang kita lakukan di dalam kehidupan (yang nantinya akan saya bahas dalam penjelasan-penjelasan tiap elemen). Beliau menjelaskan kepada kami ada lima hal penting yang menjadi elemen dasar RKR dalam membentuk kehidupan rohani yang lebih baik. 

1. Berdoa



"Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa." (Markus 6:46)

"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Markus 14:38)

"Tetaplah berdoa." (1 Tesalonika 5:17)

Ada sekian banyak ayat-ayat Alkitab yang membahas tentang kebiasaan Yesus untuk pergi menyendiri dan berdoa pada awal hari. Ia berdoa kepada Bapa, dan digambarkan pula bahwa Yesus berdoa seperti bercakap-cakap dengan Bapa. Melalui cerita tersebut, kita dapat menyimpulkan berdoa adalah suatu hal yang krusial, penting, dan bermakna di dalam hidup kita. Berdoa merupakan lambang kita dalam berkomunikasi dengan Allah Bapa. Bila dihubungkan dengan kehidupan, komunikasi menjadi patokan untuk membangun relasi yang baik dengan orang tua, teman, sahabat. Tentu saja tanpa komunikasi, hidup ini akan terasa hambar. Demikian pula, kita selayaknya sadar untuk membangun relasi dengan Tuhan, yaitu mulai dengan berkomunikasi. 

Berdoa tidak hanya sekedar aku ini begini aku ingin begitu (kayak lagunya Doraemon hehehe), namun juga mulai dari hal-hal sederhana, yaitu mengucap syukur dan memohon ampun atas dosa yang kita perbuat. Untuk membangun relasi doa, selayaknya kita merendahkan diri dihadapan Tuhan, dan mengingat apa yang telah Tuhan perbuat pada kita. Tidak perlu kata-kata yang bagus untuk berdoa, ingat ini bukan ujian essay! Tuhan hanya menginginkan kesungguhan kita dalam berdoa, dan yang penting, Tuhan rindu akan kita.

2. Membaca Kitab Suci



"Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar." (1 Timotius 4:13)

"Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan." (Roma 10:11)

Membaca surat cinta dari orang yang terkasih (sekarang ngga jaman ya, sekarang tinggal SMS juga bisa hehehe) adalah hal yang terindah yang selalu dirindukan setiap orang. Biasanya surat selalu ditulis dengan begitu indahnya, supaya pembacanya tidak merasa bingung, atau mungkin ditulis dengan penuh makna yang tersirat, sehingga pembacanya semakin fokus untuk menangkap apa yang disampaikan oleh penulis. Demikian pula Tuhan! Ia yang mencintai kita dengan segenap hati, menulis surat cinta yang luar biasa untuk kita baca dan resapi. Bahkan karena luar biasa, surat cintanya menjadi best seller! Apa itu? ALKITAB.

Alkitab adalah rangkaian-rangkaian kata penuh makna yang berisi berbagai macam hal yang baik adanya sebagai anugerah dari Tuhan, juga berisikan cerita tentang kebaikan Tuhan terhadap setiap orang (dititikberatkan dalam Injil Yohanes). Bagaimanapun, Tuhan ingin kita membaca surat cintanya, namun sayang sekali biasanya kita hanya menjadikan Alkitab sebagai pajangan, bahkan sampai Alkitabnya berdebu! Termasuk di rumah saya, hehehe. Mungkin orang akan bertanya tentang susahnya mengartikan alkitab. Oleh karena itu beberapa penerbit menerbitkan buku-buku pegangan hasil renungan para romo untuk mengerti dan menghayati makna kitab suci. So, tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca kitab suci.

3. Bersekutu



"Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa." (Kisah Para Rasul 2:42)

"Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan." (Filipi 2:1)

Bagaimana rasanya bila anda bertemu orang yang Anda rindukan, misalnya pacar, sahabat, teman? Tentu rasanya akan senang kan? Bayangkan apa yang akan terjadi. Kita akan mulai membahas banyak hal yang menghubungkan keterkaitan kita satu sama lain. Keakraban dan bahan obrolan yang tidak habis-habis disebabkan karena adanya kesamaan pandangan dan harapan untuk saling membangun dan menguatkan individu dalam kelompok tersebut. Melalui analogi tersebut, kita dapat memahami bagaimana sebuah persekutuan menjadi sangat penting dalam pengembangan diri dan sesama.

Persekutuan memiliki peran yang penting dalam kehidupan, karena melalui persekutuan, kita dapat melakukan sharing pengalaman kristiani, curhat, dan yang paling penting adalah sebagai sarana penguatan komitmen untuk menghayati hidup kristiani. Ingatlah bahwa suatu persekutuan harus dibentuk berdasarkan kesamaan pandangan untuk menghayati kehidupan Allah. Ada banyak sekali persekutuan yang memusatkan diri pada Allah dan orang kudus lainnya sebagai semangat penggerak persekutuan, misalnya Legiomariae, Komunitas Tritunggal Mahakudus, dan Persekutuan Doa Karismatik Katolik.

Gedung gereja pada dasarnya juga sudah melambangkan persekutuan dari gereja-gereja (yaitu diri kita masing-masing) yang berhimpun dan bersatu untuk memuji dan memuliakan Allah. Susunan liturgi, terutama dalam Gereja Katolik, jelas sekali menggambarkan urutan yang luar biasa indah apabila dihayati secara mendalam. Akan tetapi tidak cukup kita hanya berhenti sampai mengikuti misa dari awal sampai akhir, karena berdasarkan pengalaman, banyak sekali orang yang akhirnya terkungkung dalam ritualitas liturgi. Jelas salah kaprah, bukan? Nah, dengan persekutuan ini, kita akan diajak untuk saling mengingatkan sesama sekaligus merefreshkan diri kembali mengenai ajaranNya, terutama apakah kita sudah menghayati hidup kristiani atau belum, dan juga sebagai contoh, apakah kita sudah menghayati sakramen dan kekayaan liturgi atau belum.

4. Pelayanan



"Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati." (2 Korintus 4:1)

"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa." (Yohanes 12:26)

Berdoa, sudah. Baca kitab suci, sudah. Bersekutu, sudah. Apakah masih ada yang kurang? Ya! Misalnya begini, kita mencintai orangtua kita karena kasih sayang yang mereka limpahkan kepada kita. Oleh karena itu, wujud utama kita mencintai orangtua adalah membantu/melayani mereka ketika sedang membutuhkan pertolongan. Demikian pula Tuhan, yang mengharapkan agar kita tidak diam dalam menghadapi persoalan-persoalan dunia. Ingatlah bahwa Tuhan membutuhkan kita sebagai perpanjangan tanganNya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan ataupun memperluas karya nyataNya di bumi ini. Kita telah diciptakan Tuhan sebegitu berharganya sehingga alangkah luar biasa apabila kita mau melayani sebagai wujud nyata cinta kasih kita kepadaNya.

Pelayanan menjadi semakin krusial dalam hidup kita, terlebih apabila kita telah mendapatkan sakramen krisma. Krisma berarti bahwa ikatan para anggota gereja semakin diteguhkan dengan kekuatan Roh Kudus. Orang yang menerima Sakramen Krisma sudah dianggap dewasa untuk menjadi saksi Kristus ke seluruh dunia. Kasarnya, orang yang telah menerima Sakramen Krisma harusnya "sadar diri" untuk bangkit keluar dari kenyamanan gereja dan berbaur di masyarakat untuk mewartakan Kerajaan Allah dan membagikan sukacita surgawi.

Pelayanan tidak harus dilakukan dengan sebegitu rumitnya, dan bisa dilakukan dari hal-hal yang kecil, misalnya membantu memberi makan kepada para pemulung, memberikan penghiburan pada orang-orang yang sakit atau dilanda masalah. Tuhan tidak akan melihat kuantitas dari pelayanan-pelayanan yang kita lakukan. Kita juga dapat bergabung ke beberapa komunitas yang mengutamakan pelayanan kristiani kepada sesama yang membutuhkan (bukan pelayanan untuk mengkristenkan), contohnya Komunitas Sant'Egidio yang berbasis untuk menjadi orang-orang yang tersingkirkan menjadi sahabat.

Satu hal yang perlu kita waspadai, yaitu jangan sampai apa yang kita lakukan dalam pelayanan, baik di dalam gereja maupun di masyarakat adalah demi membuat diri menjadi terkenal dan dipandang masyarakat. Karena apabila terjadi hal seperti itu, maka sesungguhnya kita mencuri kemuliaan Allah, dalam arti bahwa orientasi kita adalah ingin dihargai, bukan sebagai wujud nyata untuk mendalami hidup kristiani.

5. Sakramen

Kata sakramen memang tidak terdapat pada kitab suci. Sakramen berasal dari bahasa Latin saccramentum yang secara harafiah berarti "menjadikan suci". Selain itu sakramen juga dapat didefinisikan sebagai "tanda kehadiran Allah". Dalam kekatolikan, terdapat tujuh sakramen, yaitu pembaptisan, ekaristi, krisma, imamat, perkawinan, pengurapan orang sakit, dan rekonsiliasi. Melalui tanda kehadiran Allah, kita sudah sepantasnya menghayati dengan sungguh-sungguh liturgi yang ada, sehingga kita dapat semakin merasakan dan mendalami keintiman hubungan kita dengan Allah.

Penyakit yang sering sekali menghinggapi setiap orang adalah mudah bosan dan cenderung mengikuti alur ritualitas. Selain itu saya merasa pendidikan keagamaan dalam memahami setiap tahap dalam sakramen dirasa kurang mendalam. Padahal apabila disadari, kedalaman arti sakramen sungguh luar biasa. Saya menyarankan kepada pembaca untuk sekedar browsing ataupun bertanya kepada romo/pastur. Selanjutnya, berdasarkan apa yang telah kita ketahui, pelan-pelan kita berlatih untuk konsentrasi dan fokus terhadap urutan-urutan liturgis, serta yang paling penting, memohon bantuan Tuhan untuk memaknai peristiwa liturgi sebagai sarana pendekatan pribadi.

Epilog

Bagaimanapun juga kelima hal ini harus dilaksanakan dengan rutin, tidak mungkin hanya melakukan salah satu saja. Roda itu bulat, kalau misalnya ada elemen yang terlepas, misalnya bentuk rodanya tinggal seperlima, maka itu bukanlah roda lagi. Artinya, apabila kita tidak melakukan salah satu saja, kehidupan rohani kita tidak dapat bergerak dengan dinamis. Memang cukup untuk melakukannya, namun dengan ketulusan, kerendahan hati, dan permohonan akan bimbingan Tuhan, kita dapat bergerak bersama untuk mewujudkan kehidupan rohani yang lebih baik. Semangat!