Jumat, 22 Januari 2016

Pemahaman Agama: Roda Kehidupan Rohani

Bila anda membaca post berjudul Pilihan, mungkin anda merasa bingung dengan pembahasan yang berputar-putar. Ya, karena sebenarnya saya ingin menunjukkan kepada anda tentang pilihan sebagai bagian dari kehidupan. Pilihan mungkin adalah sesuatu yang dibenci kebanyakan orang, namun saya ingin menunjukkan esensi dari sebuah pilihan. Dalam post kali ini, saya ingin membahas tentang cara yang Tuhan berikan dalam memahami sebuah pilihan, bahkan memahami tentang kehidupan itu sendiri.

Mungkin juga anda bertanya-tanya mengapa judul dari post kali ini adalah Roda Kehidupan Rohani (RKR)? Karena RKR adalah sebuah konsep yang berakar pada cara diri sendiri untuk memahami Allah sebagai jalan kebenaran. Sekali lagi mungkin pos ini terlalu bertemakan rohani kristiani, namun sebenarnya juga dapat dikorelasikan pada kerohanian setiap agama. Dalam post Pilihan, saya menulis ada cara untuk membuat diri menjadi lebih peka akan rencana Allah, dan RKR adalah cara yang saya maksud. Mari kita lihat filosofi dari nama RKR tersebut.

"Bis tanpa roda? Bagaimana mungkin?"

Roda sering sekali dihubungkan dengan hal yang berbau dinamis dan memberi kemudahan, membantu penggunanya dalam membawa suatu barang atau transportasi. Bayangkan apabila bis tidak ada rodanya! Roda juga sering dikaitkan dengan kehidupan. Ya, tentu saja anda sering mendengar istilah "roda itu berputar, kadang di atas, kadang di bawah". Roda dalam RKR ini juga terkait akan kehidupan, yaitu melambangkan kehidupan rohani kita agar selalu dinamis dan menyesuaikan kondisi saat ini. Itulah mengapa sebabnya dinamakan Roda Kehidupan Rohani.

Melalui filosofi tersebut, Roda Kehidupan Rohani memiliki elemen-elemen penting dalam menunjang pergerakan hidup rohani. Kebetulan sekali sebelumnya bahwa konsep RKR ini dikenalkan oleh Pak Gig (guru agama SMP saya) kepada murid-muridnya. Dalam setiap penjelasan, Pak Gig selalu mempunyai analogi mengenai elemen-elemen RKR dengan kebiasaan yang kita lakukan di dalam kehidupan (yang nantinya akan saya bahas dalam penjelasan-penjelasan tiap elemen). Beliau menjelaskan kepada kami ada lima hal penting yang menjadi elemen dasar RKR dalam membentuk kehidupan rohani yang lebih baik. 

1. Berdoa



"Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa." (Markus 6:46)

"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Markus 14:38)

"Tetaplah berdoa." (1 Tesalonika 5:17)

Ada sekian banyak ayat-ayat Alkitab yang membahas tentang kebiasaan Yesus untuk pergi menyendiri dan berdoa pada awal hari. Ia berdoa kepada Bapa, dan digambarkan pula bahwa Yesus berdoa seperti bercakap-cakap dengan Bapa. Melalui cerita tersebut, kita dapat menyimpulkan berdoa adalah suatu hal yang krusial, penting, dan bermakna di dalam hidup kita. Berdoa merupakan lambang kita dalam berkomunikasi dengan Allah Bapa. Bila dihubungkan dengan kehidupan, komunikasi menjadi patokan untuk membangun relasi yang baik dengan orang tua, teman, sahabat. Tentu saja tanpa komunikasi, hidup ini akan terasa hambar. Demikian pula, kita selayaknya sadar untuk membangun relasi dengan Tuhan, yaitu mulai dengan berkomunikasi. 

Berdoa tidak hanya sekedar aku ini begini aku ingin begitu (kayak lagunya Doraemon hehehe), namun juga mulai dari hal-hal sederhana, yaitu mengucap syukur dan memohon ampun atas dosa yang kita perbuat. Untuk membangun relasi doa, selayaknya kita merendahkan diri dihadapan Tuhan, dan mengingat apa yang telah Tuhan perbuat pada kita. Tidak perlu kata-kata yang bagus untuk berdoa, ingat ini bukan ujian essay! Tuhan hanya menginginkan kesungguhan kita dalam berdoa, dan yang penting, Tuhan rindu akan kita.

2. Membaca Kitab Suci



"Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar." (1 Timotius 4:13)

"Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan." (Roma 10:11)

Membaca surat cinta dari orang yang terkasih (sekarang ngga jaman ya, sekarang tinggal SMS juga bisa hehehe) adalah hal yang terindah yang selalu dirindukan setiap orang. Biasanya surat selalu ditulis dengan begitu indahnya, supaya pembacanya tidak merasa bingung, atau mungkin ditulis dengan penuh makna yang tersirat, sehingga pembacanya semakin fokus untuk menangkap apa yang disampaikan oleh penulis. Demikian pula Tuhan! Ia yang mencintai kita dengan segenap hati, menulis surat cinta yang luar biasa untuk kita baca dan resapi. Bahkan karena luar biasa, surat cintanya menjadi best seller! Apa itu? ALKITAB.

Alkitab adalah rangkaian-rangkaian kata penuh makna yang berisi berbagai macam hal yang baik adanya sebagai anugerah dari Tuhan, juga berisikan cerita tentang kebaikan Tuhan terhadap setiap orang (dititikberatkan dalam Injil Yohanes). Bagaimanapun, Tuhan ingin kita membaca surat cintanya, namun sayang sekali biasanya kita hanya menjadikan Alkitab sebagai pajangan, bahkan sampai Alkitabnya berdebu! Termasuk di rumah saya, hehehe. Mungkin orang akan bertanya tentang susahnya mengartikan alkitab. Oleh karena itu beberapa penerbit menerbitkan buku-buku pegangan hasil renungan para romo untuk mengerti dan menghayati makna kitab suci. So, tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca kitab suci.

3. Bersekutu



"Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa." (Kisah Para Rasul 2:42)

"Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan." (Filipi 2:1)

Bagaimana rasanya bila anda bertemu orang yang Anda rindukan, misalnya pacar, sahabat, teman? Tentu rasanya akan senang kan? Bayangkan apa yang akan terjadi. Kita akan mulai membahas banyak hal yang menghubungkan keterkaitan kita satu sama lain. Keakraban dan bahan obrolan yang tidak habis-habis disebabkan karena adanya kesamaan pandangan dan harapan untuk saling membangun dan menguatkan individu dalam kelompok tersebut. Melalui analogi tersebut, kita dapat memahami bagaimana sebuah persekutuan menjadi sangat penting dalam pengembangan diri dan sesama.

Persekutuan memiliki peran yang penting dalam kehidupan, karena melalui persekutuan, kita dapat melakukan sharing pengalaman kristiani, curhat, dan yang paling penting adalah sebagai sarana penguatan komitmen untuk menghayati hidup kristiani. Ingatlah bahwa suatu persekutuan harus dibentuk berdasarkan kesamaan pandangan untuk menghayati kehidupan Allah. Ada banyak sekali persekutuan yang memusatkan diri pada Allah dan orang kudus lainnya sebagai semangat penggerak persekutuan, misalnya Legiomariae, Komunitas Tritunggal Mahakudus, dan Persekutuan Doa Karismatik Katolik.

Gedung gereja pada dasarnya juga sudah melambangkan persekutuan dari gereja-gereja (yaitu diri kita masing-masing) yang berhimpun dan bersatu untuk memuji dan memuliakan Allah. Susunan liturgi, terutama dalam Gereja Katolik, jelas sekali menggambarkan urutan yang luar biasa indah apabila dihayati secara mendalam. Akan tetapi tidak cukup kita hanya berhenti sampai mengikuti misa dari awal sampai akhir, karena berdasarkan pengalaman, banyak sekali orang yang akhirnya terkungkung dalam ritualitas liturgi. Jelas salah kaprah, bukan? Nah, dengan persekutuan ini, kita akan diajak untuk saling mengingatkan sesama sekaligus merefreshkan diri kembali mengenai ajaranNya, terutama apakah kita sudah menghayati hidup kristiani atau belum, dan juga sebagai contoh, apakah kita sudah menghayati sakramen dan kekayaan liturgi atau belum.

4. Pelayanan



"Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati." (2 Korintus 4:1)

"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa." (Yohanes 12:26)

Berdoa, sudah. Baca kitab suci, sudah. Bersekutu, sudah. Apakah masih ada yang kurang? Ya! Misalnya begini, kita mencintai orangtua kita karena kasih sayang yang mereka limpahkan kepada kita. Oleh karena itu, wujud utama kita mencintai orangtua adalah membantu/melayani mereka ketika sedang membutuhkan pertolongan. Demikian pula Tuhan, yang mengharapkan agar kita tidak diam dalam menghadapi persoalan-persoalan dunia. Ingatlah bahwa Tuhan membutuhkan kita sebagai perpanjangan tanganNya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan ataupun memperluas karya nyataNya di bumi ini. Kita telah diciptakan Tuhan sebegitu berharganya sehingga alangkah luar biasa apabila kita mau melayani sebagai wujud nyata cinta kasih kita kepadaNya.

Pelayanan menjadi semakin krusial dalam hidup kita, terlebih apabila kita telah mendapatkan sakramen krisma. Krisma berarti bahwa ikatan para anggota gereja semakin diteguhkan dengan kekuatan Roh Kudus. Orang yang menerima Sakramen Krisma sudah dianggap dewasa untuk menjadi saksi Kristus ke seluruh dunia. Kasarnya, orang yang telah menerima Sakramen Krisma harusnya "sadar diri" untuk bangkit keluar dari kenyamanan gereja dan berbaur di masyarakat untuk mewartakan Kerajaan Allah dan membagikan sukacita surgawi.

Pelayanan tidak harus dilakukan dengan sebegitu rumitnya, dan bisa dilakukan dari hal-hal yang kecil, misalnya membantu memberi makan kepada para pemulung, memberikan penghiburan pada orang-orang yang sakit atau dilanda masalah. Tuhan tidak akan melihat kuantitas dari pelayanan-pelayanan yang kita lakukan. Kita juga dapat bergabung ke beberapa komunitas yang mengutamakan pelayanan kristiani kepada sesama yang membutuhkan (bukan pelayanan untuk mengkristenkan), contohnya Komunitas Sant'Egidio yang berbasis untuk menjadi orang-orang yang tersingkirkan menjadi sahabat.

Satu hal yang perlu kita waspadai, yaitu jangan sampai apa yang kita lakukan dalam pelayanan, baik di dalam gereja maupun di masyarakat adalah demi membuat diri menjadi terkenal dan dipandang masyarakat. Karena apabila terjadi hal seperti itu, maka sesungguhnya kita mencuri kemuliaan Allah, dalam arti bahwa orientasi kita adalah ingin dihargai, bukan sebagai wujud nyata untuk mendalami hidup kristiani.

5. Sakramen

Kata sakramen memang tidak terdapat pada kitab suci. Sakramen berasal dari bahasa Latin saccramentum yang secara harafiah berarti "menjadikan suci". Selain itu sakramen juga dapat didefinisikan sebagai "tanda kehadiran Allah". Dalam kekatolikan, terdapat tujuh sakramen, yaitu pembaptisan, ekaristi, krisma, imamat, perkawinan, pengurapan orang sakit, dan rekonsiliasi. Melalui tanda kehadiran Allah, kita sudah sepantasnya menghayati dengan sungguh-sungguh liturgi yang ada, sehingga kita dapat semakin merasakan dan mendalami keintiman hubungan kita dengan Allah.

Penyakit yang sering sekali menghinggapi setiap orang adalah mudah bosan dan cenderung mengikuti alur ritualitas. Selain itu saya merasa pendidikan keagamaan dalam memahami setiap tahap dalam sakramen dirasa kurang mendalam. Padahal apabila disadari, kedalaman arti sakramen sungguh luar biasa. Saya menyarankan kepada pembaca untuk sekedar browsing ataupun bertanya kepada romo/pastur. Selanjutnya, berdasarkan apa yang telah kita ketahui, pelan-pelan kita berlatih untuk konsentrasi dan fokus terhadap urutan-urutan liturgis, serta yang paling penting, memohon bantuan Tuhan untuk memaknai peristiwa liturgi sebagai sarana pendekatan pribadi.

Epilog

Bagaimanapun juga kelima hal ini harus dilaksanakan dengan rutin, tidak mungkin hanya melakukan salah satu saja. Roda itu bulat, kalau misalnya ada elemen yang terlepas, misalnya bentuk rodanya tinggal seperlima, maka itu bukanlah roda lagi. Artinya, apabila kita tidak melakukan salah satu saja, kehidupan rohani kita tidak dapat bergerak dengan dinamis. Memang cukup untuk melakukannya, namun dengan ketulusan, kerendahan hati, dan permohonan akan bimbingan Tuhan, kita dapat bergerak bersama untuk mewujudkan kehidupan rohani yang lebih baik. Semangat!

Kamis, 21 Januari 2016

Pemahaman Agama: Pilihan



Akhirnya saya bisa kembali lagi berjumpa dengan anda, para pembaca, di tahun yang baru ini. Perkenankanlah saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2016! Semoga di tahun yang baru ini kita tetap semangat untuk menjalani hidup dan mensyukuri rahmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Okay, artikel ini mungkin cenderung lebih ke arah religi/agama, tetapi menurut saya tidak masalah, apalagi di awal tahun ini, tentunya akan lebih baik jika diawali dengan introspeksi dan penyadaran akan diri.

Berbicara tentang kehidupan, kita sering sekali dihantui dengan masalah atau pilihan. Pilihan itu terkadang begitu berat untuk diambil, namun apabila tidak diambil, justru kita akan semakin dipersulit oleh keadaan. Sesungguhnya pilihan itu adalah kodrat yang telah diberikan Tuhan kepada manusia. Kok bisa ya?

Tuhan telah merancangkan jalan kehidupan kepada kita. Jalannya seperti kota Jakarta. Banyak kelokan, banyak cabang. Kadang pilihannya bisa begitu berat, bisa begitu njomplang (tidak seimbang - bahasa Jawa). Sifat dasar yang Tuhan punya adalah KASIH. Kasih. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, KASIH memiliki makna menyayangi. Tentu saja Tuhan menyayangi kita, dengan menganugerahi kehidupan kepada kita, sehingga kita kita dapat melihat dan merasakan keindahan alam. Namun kata KASIH di sini juga memberi arti memberi/tidak memaksa/tidak mengharapkan imbalan. Kalau merasa bingung, saya akan mencoba memberikan penjelasan melalui kasus berikut ini: 

"Aku memberikan coklat kepada anak jalanan karena aku menyayanginya. Memberi coklat tentu saja harus dengan ketulusan hati, karena apabila mengharapkan imbalan, maka kata "memberi" akan kehilangan esensinya, atau dengan kata lain aku tidak menyayangi/mengasihi anak jalanan tersebut."

Melalui kasus tersebut kita memahami bahwa sifat dasar Tuhan adalah tidak memaksa, termasuk tidak memaksa kita untuk memilih suatu jalan yang telah disediakanNya. Oleh karena itu Tuhan memberikan kehendak bebas kepada kita untuk memilih apa jalan yang menurut kita benar atau tepat untuk menghadapi kehidupan selanjutnya, meskipun ternyata jalan yang kita pilih bukanlah yang Tuhan inginkan. Lalu apakah Tuhan meninggalkan kita karena salah memilih jalan?

Tentu saja tidak. Terkadang Ia menyelipkan suatu peristiwa-peristiwa yang tidak terduga, yang coincidence, yang mungkin saja memaksa kita untuk memahami setiap kejadian yang melampaui batas pemikiran manusia. Sekali lagi, sekalipun Tuhan menyelipkan peristiwa tersebut, tentu saja butuh kepekaan dari pihak manusia untuk memahami apa yang Tuhan ingin sampaikan. Bagaimana caranya untuk menjadi manusia yang peka akan kehadiran Tuhan (bukan pekok)? Saya akan jelaskan di post selanjutnya.

Gambar di samping adalah seekor anjing yang dimiliki oleh Pak Gig (guru agama di SMP saya, di Salatiga, yang memberi inspirasi bagi saya tentang kedalaman ajaran agama). Lucu kan? Hehehehe. Saya sebenarnya lupa nama anjingnya, akan tetapi dia dilahirkan dengan keadaan "istimewa", yaitu salah satu kaki yang tidak dapat berfungsi. Okay, pasti anda mulai berpikir mengapa anjing itu harus terlahir dengan keadaan "istimewa". Bukankah anjing itu ciptaan Tuhan yang juga memiliki kehendak untuk dilahirkan seperti anjing-anjing lainnya? Berdasarkan permenungan saya, Tuhan mempunyai tolak ukur dalam menilai hambaNya/ciptaanNya. Ia bisa jadi dilahirkan dengan kondisi seperti itu karena Tuhan tahu dia kuat, atau mungkin juga Tuhan menginginkan ia menjadi berkat. Kok bisa? Di post selanjutnya saya akan menjelaskan tentang "Menjadi Berkat". Yang pasti berkat anjing inilah, saya terinspirasi untuk menulis post ini.

Lalu apakah hubungannya dengan pilihan? Pada kenyataannya ketika anjing ini dilahirkan, tidak ada saudaranya yang memiliki kondisi "istimewa" tersebut. Anjing ini bisa saja mengucilkan dirinya, bersembunyi, tidak mau makan, diam, lalu mati. Namun tidak! Enam bulan berselang, ketika saya melihat anjing ini, dia tumbuh menjadi seekor anjing yang lincah dan badannya besar seperti ibunya (yang tentu saja juga seekor anjing). Anjing ini memilih untuk tumbuh bersama saudara-saudaranya, tumbuh dan hadir untuk menginspirasi orang-orang di sekitarnya, mempertahankan kodrat hidup, seperti apa yang Tuhan rencanakan pada anjing itu.

Mungkin kok rumit ya, apa tidak ada contoh dari kehidupan penulis? Tentu saja ada, dan ini sederhana! Bahkan saya baru menyadari setelah menulis post ini. Menurut saya ini adalah permenungan yang menghasilkan sesuatu yang terduga. Jadi begini ceritanya.


"Saat itu saya sedangkan mengikuti rekoleksi yang diadakan oleh Pak Gig di Wisma Hastungkarapudya, Kopeng, Kab. Semarang. Beliau berkata bahwa lebih baik tidur lebih awal agar tidak melewatkan pagi yang indah. Kemudian saya bangun sekitar waktu subuh, dan pergi ke lantai teratas untuk melihat pemandangan. Benar saja! Matahari mulai bangkit dari peraduannya, dan perlahan menyinari Gunung Merbabu (terlihat pada gambar kedua). Pemandangan itu sungguh, sungguh luar biasa, dan hati saya begitu tenang dalam melihat keindahan yang Tuhan berikan. Tidak ada kabut, hanya awan cirrus yang menghiasi langit yang biru. Sejuk dan segarnya udara begitu menghangatkan hati, ditambah terik matahari yang menghangatkan tubuh. Luar biasa!"

Kemudian saya mengingat kembali bahwa peristiwa itu bermula dari pilihan yang saya ambil sebelumnya. Mulai dari pilihan saya untuk mengikuti retret tersebut, hingga pilihan saya untuk tidur lebih awal. Tuhan "memberi info" kepada saya tentang retret, namun tidak memaksa saya harus ikut retret itu. Saya mengikuti retret itu karena kehendak pribadi (dan karena disuruh Pak Gig, hehehe - murid semprul, jangan ditiru).

Jadi, melalui post ini saya ingin menyampaikan kembali bahwa kita telah diberi pilihan oleh Tuhan dan kehendak untuk memilih. Terkadang pilihannya begitu berat dan membingungkan, namun kita akan tahu hingga suatu titik, bahwa sebenarnya apa yang kita pilih akan membawa kelegaan terhadap hidup kita. Satu hal yang penting adalah dalam menentukan pilihan yang benar, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan.

Senin, 01 Juni 2015

Tour Pulang Kampung (dan Efisiensi, My Favourite Bus - Part 2)

Setelah berlelah-lelah mengikuti kegiatan perkuliahan di semester dua, akhirnya saya dapat pulang ke kampung halaman untuk mengumpulkan semangat baru.



Empat tahun yang lalu...
Pertama kali lihat bis ini di Mbah Gugel, saya langsung jatuh cinta pada karena keunikan, keanggunan, dan kepopulerannya. Itulah bis Efisiensi. Eh sebelumnya jangan salah sangka dulu, saya cinta sama cewek kok, hanya saja saya tertarik dengan bis ini karena hampir setiap tahun selalu berganti armada. PO Efisiensi melayani penumpang jurusan Purbalingga-Jogjakarta, Jogjakarta-Purwokerto dan Cilacap-Jogjakarta. Saya tertarik dan penasaran dengan metode yang digunakan perusahaan itu untuk mencapai Break Even Point, meskipun sampai saat ini memang hanya pengusahanya yang tahu. Akan tetapi hal yang membuat saya semakin tertarik adalah banyak fans yang tergabung dalam grup pecinta bis Efisiensi di Facebook. Mempunyai grup fans, terlebih yang berjalan begitu dinamis, merupakan suatu fenomena dan kebanggaan tersendiri bagi setiap pemilik perusahaan otobus, tak terkecuali dengan Pak Eri yang mempunyai PO Efisiensi. Grup Facebook sendiri bisa menjadi indikator kedinamisan suatu PO dalam mewujudkan armada yang canggih dan pelayanan yang prima. Maka untuk meningkatkan citra positif dan mengakrabkan diri dengan para fans, Pak Eri sering sekali mengadakan acara kopdar ataupun buka puasa bersama.

Saat ini...
Sudah sekian lama saya menanti waktu untuk pulang kampung. Terkadang saya sering putar otak untuk mencari cara supaya prosesi pulang kampung (lebay deh) menjadi suatu hal yang berkesan. Satu-satunya cara yang memungkinkan adalah berpindah-pindah bis dari satu kota ke kota lain atau estafet. Tips dari saya, jangan lakukan estafet jika dalam kondisi terburu-buru, karena hal ini cukup menyita waktu dan hanya untuk senang-senang saja. So, here it is.

18 Mei 2015
Ceritanya bercakap-cakap dengan orangtua, terus dibolehin. Setelah itu saya merencanakan rute pulang kampung deh, dan akhirnya dapat juga. Bandung - Purwokerto - Jogja - Kartasura - Salatiga. Yeayyy!!

24 Mei 2015
Bis Sinar Jaya
Kebetulan dari pagi hari saya sedang main ke tempat om, jadi sekitar jam 17.30, saya diantar oleh om ke Terminal Cicaheum. Sebenarnya nekat juga karena saya belum membeli tiket bis hehehehehe. Pokoknya jangan ditiru deh apalagi pada saat kondisi mudik. Berdasarkan pantauan Mbah Gugel, ada dua pilihan utama bis ke Purwokerto, yaitu Budiman dan Sinar Jaya. Akan tetapi semua Bis Budiman telah berangkat, alhasil hanya Sinar Jaya yang masih nongkrong di terminal. Syukurlah, akhirnya dapat juga tiketnya! Setelah diusut ternyata bis legendarisnya Pantura Banyumas itu tidak penuh, sehingga saya duduk sendiri. Bis pun berangkat pada jam 19.03. 

Untuk informasi, Bis Sinar Jaya yang saya gunakan ini adalah bis dengan tipe body Evolution buatan Karoseri Rahayu Santosa. Mesinnya sudah jelas, Hino RK, jurusan Bandung-Purwokerto-Wonosobo. Kelasnya sih Eksekutif, tapi jangan samakan Eksekutifnya Sinar Jaya ataupun bis Muriaan dengan bis Wonogirian. Beda euy! Bis ini berkapasitas sekitar 43 kursi (kalau eksekutif bis Wonogirian berkapasitas 30 kursi/7 baris dan memiliki sandaran kaki, meskipun tidak bisa dipakai sandaran hati). Kalau tidak salah ada sekitar 20 -an orang yang naik bis ini.

Sambil menikmati perjalanan, saya pun menghubungi sahabat saya yang masih kuliah di Jogjakarta via telepon. Namanya Natalia. Nah Lia ini kelahiran 1995, anaknya baik, ndak neko-neko, perhatian, namun belum mempunyai tambatan hati. Eh ini bukan website cari jodoh ya. Nah ternyata selama kami menelepon, jalanan pun padat merayap sehingga bis ini tidak dapat berlari kencang. 

Dua jam kemudian kami mengakhiri pembicaraan dan sekitar pukul 08.30 saya tiba di turunan Nagreg. Saya ingin memejamkan mata sejenak, namun apadaya saya tidak bisa. Entah gaya menyetir sopirnya yang kasar atau jalannya yang terlalu berkelok, namun faktor-faktor tersebut membuat saya sulit memejamkan mata. Setelah Ciawi (Kabupaten Tasikmalaya), jalan pun berangsur-angsur mulai lurus. Saya pun tertidur.

Pukul 23.00 kami tiba di sebuah rumah makan di daerah Ciamis. Saya ingin memotret bis ini dari luar, namun HP saya rusak sehingga terkadang tidak dapat menyimpan memori dengan baik. Pukul 23.30 bis mulai berangkat kembali. Sopir yang kedua ini bisa membawa bis ini berjalan lebih baik, dan saya kembali tertidur, meskipun terkadang saya terbangun. Untungnya saya bisa melihat Terminal Karangpucung (fansnya Budiman dan Gapuraning Rahayu pasti tahu terminal ini).

25 Mei 2015
Bis Efisiensi
Tiba-tiba saya terbangun pada jam 01.30. Kondektur berkata "Rawalo, Rawalo, yang turun Rawalo". Wah, sudah dekat Purwokerto nih, tapi kok masih pagi banget ya? Benar saja, pukul 02.05 saya tiba di Terminal Bulupitu. Hal yang semakin luar biasa adalah saya tidak membawa bacaan buku, baterai HP mudah drop, dan terminal yang sangat sepi. Ketika saya duduk di bangku, saya berkali-kali ditanya oleh tukang becak, tukang ojek, dan supir taksi. Pertanyaan mereka pun sama, "Mau kemana?" Saya pun hanya menggelengkan kepala. Terminal bis pun masih sepi, sehingga tidak ada hiburan dari bis-bis yang lewat. Satu-satunya hiburan saya adalah peta Pulau Jawa dan petunjuk kilometer antar kota. Kemudian saya menemukan WC yang didepannya terdapat penyewaan jasa isi baterai HP, dan sekitar jam 05.30 baterai sudah cukup penuh. Saya pergi ke agen tiket Efisiensi untuk membeli tiket jurusan Jogja. Yeayy!

Bis yang saya tumpangi ini adalah bis kedua yang berangkat dari Purwokerto pada pagi itu, karena alasan menunggu baterai HP penuh, saya pun meng-skip bis pertama yang berangkat jam 05.00. Setelah membayar, saya diberi tiket yang bentuknya seperti struk belanjaan disertai nomer tempat duduk dan barcode, suatu pelayanan yang luar biasa untuk ukuran bis AKAP jarak dekat.

Tiket Bis Efisiensi yang Berbentuk seperti Struk Belanjaan

Perlahan-lahan saya kembali ke area bis terparkir. Saya menatap takjub akan kecantikannya. Setelah masuk, saya mencium aroma bis yang wangi. Everything is new!


Kursinya Besar dan Empuk, Buatan Aldilla

Jarak Antar Kursi Sangat Lega, Kapasitas 43 Kursi

Blower Air Conditioner (AC)

Pada jam 06.00 tepat, supir bis mulai memundurkan bisnya, dan bergerak. Suara khas mesin Hino RK menemaniku menikmati pemandangan sawah yang berkabut dan matahari yang bangkit dari peraduan. Sebagai informasi, bis yang saya tumpangi kali ini adalah bis buatan Karoseri Adiputro dengan model Jetbus HD2+ (tetapi nama model ini bisa dimodifikasi, misalnya menjadi Jetbus Set3) yang mirip dengan bis luar negeri Setra 500. Kursi yang besar dan empuk buatan Aldilla membuat suasana perjalanan menjadi sangat nyaman. Tidak lupa pasti sopir membunyikan klakson khasnya, telolet telolet.


Stiker Lambang Jetbus Set3

Awalnya bis tidak penuh, namun setelah berkunjung ke agen-agen yang berada di antara Purwokerto dan Kebumen, bis ini pun menjadi penuh. Sekitar pukul 08.00, bis ini tiba di tempat istirahat kebanggaan PO Efisiensi, Rest Area Wonosari. Nama Wonosari tersebut diambil dari nama desa tempat rest area tersebut berada. Kira-kira kami beristirahat selama 10 menit. Cukup waktu untuk membeli sedikit makanan, pergi ke toilet, ataupun sekadar berfoto dengan bis. Sayang sekali saya tidak bertemu bis Efisiensi jurusan Cilacap-Jogja.

Bis Efisiensi yang Sedang Berhenti di Rest Area Wonosari

Kembarannya Bis yang Saya Tumpangi, Tujuan Purwokerto

Sekitar jam 08.10, bis saya bertolak kembali menuju Jogjakarta. Pemandangan alam sawah yang membentang dari Kabupaten Banyumas hingga Kabupaten Kulonprogo menghiasi perjalanan kami. Akhirnya, saya tiba di Terminal Giwangan, Jogjakarta pada pukul 10.45 dan segera pergi menuju parkiran bis Surabayaan.

Bis Eka
Akhirnya saya memilih Bis Eka untuk melanjutkan perjalanan menuju Solo. Sayang sekali karena keterbatasan baterai, saya hanya bisa mendokumentasi sedikit perjalanan. Pukul 11.15, bis berangkat menuju Surabaya dan saya turun di Perempatan Kartasura pada jam 12.45. Bis Eka yang saya gunakan ini adalah bis dengan model Jetbus buatan Karoseri Morodadi Prima yang membalut sasis Hino RK.


Suasana Perjalanan Bis Eka


Jarak Antar Kursi Cukup Lega

Bis Rajawali
For the last stage, saya menggunakan jasa bis PO Rajawali jurusan Semarang-Solo pada pukul 13.00, dan akhirnya tiba di kota tercinta pada pukul 14.35. Maaf-maaf kata karena tidak ada dokumentasi. Jangankan untuk foto, untuk sekedar telepon pun tidak ada sisa baterai. Hal yang saya ingat adalah bahwa bis Rajawali ini adalah bis berbalut body Nucleus3 buatan Karoseri Laksana, juga bermesin Hino RK.

Akhirnya, saya pun sampai di rumah tercinta sekitar pukul 14.45, dan estafet pulang kampung pun berakhir. 


Foto Tiket Bis-bis Hasil Estafet