Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

Lapangan Sekolahku Yang Cantik

Wajah sekolahku sedang berubah. Lapangan sekolah yang dulu benar-benar berdebu kini sedang ditata rapi. Melalui pintu kelasku, aku dapat melihat perubahan yang terjadi pada lapangan. Bangunan-bangunan yang mengelilinginya menjadi saksi bisu atas perubahan itu, dan andaikan mereka dapat berbicara, mungkin mereka akan mengekspresikan rasa kagum seperti diriku.
            Kadang-kadang aku dan teman-temanku suka mengamati lapangan dari tangga di sebelah utara lapangan sembari menyandarkan diri pada gagang tangga. Lapangan begitu luas, tertutup oleh pasir abu-abu. Di sekelilingnya ada jalur batu bata yang dihaluskan, apabila dilihat dari jauh bagaikan karpet merah. Disamping jalur bata, ada jalan paving mengelilingi sekitar tiga per empat lapangan. Setengah dari lapangan pasir itu telah ditanami rumput. Mungkin sebulan lagi, rumput itu akan terlihat seperti permadani hijau yang mampu menyegarkan mata yang sering menyaksikan kerasnya hidup. Pepohonan, bunga, dan rumput raja yang ditanam rapi di tepi kian mempercantik lapangan, yang memberikan kesejukan udara pada hari itu. Selain itu, di ujung kanan terdapat arena lompat jauh yang berada di bawah rindangnya pohon apel. Hari itu ada beberapa tukang yang sedang mempercantik lapangan. Dua orang sedang menyiram rumput, dua orang menanam rumput, dua orang lainnya sedang membuat landasan tiang bendera di sebelah barat. Selain itu ada dua orang lagi, yang satu sedang meratakan pasir, dan yang lainnya membuat jalan batu.
Ketika aku memandang jauh ke arah selatan, terdapat lahan yang belum dipercantik. Lahan itu merupakan bekas bangunan yang diratakan, dan tumpukan sisa bangunan masih terlihat menggunung di sana. Di dekatnya terdapat empat pohon yang seolah-olah mati, namun mereka masih memiliki harapan untuk hidup dan menghijaukan SMA Negeri 1 Salatiga. Mungkin lahan dan pohon itu seolah-olah menciptakan suasana gersang, namun siapa tahu wajah mereka berubah di masa yang akan datang.

Jumat, 07 Oktober 2011

Sajak Palsu

Pengantar Glenndenver: 
Sajak Palsu adalah sajak yang paling dapat membuat saya tertawa (baca: menertawakan kebenaran). Sajak yang dibuat oleh Agus R. Sarjono pada tahun 1998 ini menjadi salah satu sajak yang paling menarik, mungkin karena pengulangan kata palsu, seolah-olah menekankan betapa dominan kata palsu itu. Sajak ini mampu menggambarkan betapa banyak kepalsuan yang tercipta dalam kehidupan ini, yang memberi makna tersirat bahwa ironi ini akan terus menjamur apabila kita tidak dapat merubah apa yang tergambar dalam puisi ini.

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.