Jumat, 19 Februari 2016

Resume Kegiatan Komunitas Sant'Egidio "Kegembiraan Injil di Indonesia"

Berikut ini adalah resume yang saya buat mengenai Kegiatan Komunitas Sant'Egidio seluruh Indonesia yang diadakan di Jakarta, 12-15 November 2015.

Kebahagiaan Injil adalah memberikan kebahagiaan pada orang lain. Kebahagiaan harus dibagikan kepada orang yang membutuhkan.”(Andrea Riccardi, pendiri Komunitas Sant’Egidio)

Banyak orang Katolik, terutama di Indonesia, yang belum pernah mengetahui keberadaan komunitas Sant’Egidio. Hal itu cukup wajar bagi kami, karena kami pun baru mengenal komunitas ini beberapa bulan yang lalu. Komunitas Sant’Egidio adalah komunitas yang dibentuk pada tahun oleh Andrea Riccardi, seorang professor sejarah kontemporer Italia, yang telah diakui oleh Gereja Katolik sebagai komunitas pelayanan.
Pada tahun 1968, seorang remaja bernama Andrea Riccardi mempunyai inisiatif untuk mengumpulkan teman-teman untuk mendengarkan dan melaksanakan Injil, mengacu pada kehidupan komunitas Kristen pertama dan kehidupan Santo Fransiskus Asisi. Kemudian kelompok pemuda ini mulai mengunjungi barak-barak di pinggiran Roma, Italia, dan membangun sekolah damai untuk mengajar anak-anak di sore hari. Sejak saat itu komunitas pun mulai berkembang menjadi beranggotakan 50.000 orang di 70 negara, termasuk di Indonesia.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan komunitas ini adalah berdoa, membaca kitab suci, pelayanan terhadap orang yang membutuhkan, komitmen pada ekumenisme, dan melakukan forum dialog antar agama. Orang yang tidak mampu secara finansial menjadi pusat pelayanan komunitas ini.
Dalam melahirkan semangat baru kembali bagi Komunitas Sant’Egidio di Indonesia, maka dibentuklah acara bertajuk “Kegembiraan Injil di Indonesia” pada 12-15 November 2015, yang diikuti oleh anggota-anggota komunitas yang berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Andrea Riccardi, yang terakhir datang ke Indonesia pada tahun 1999 dalam rangka pembentukan Komunitas Sant’Egidio di Padang. Kedatangan Andrea Riccardi pada tanggal 13 November di Aula SMP Santa Maria Jakarta disambut dengan meriah oleh setiap anggota dengan menyanyikan lagu Hymne Komunitas.
Dalam penuturannya, Andrea mengatakan bahwa semua orang adalah murid “Sekolah Yesus”. Oleh karena itu, hendaknya kita rajin untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan berdoa setiap hari. Andrea menganalogikan setiap pribadi manusia yang memikirkan diri sendiri sebagai “pulau yang terpencil”. Komunitas memiliki peran sebagai “jembatan” untuk menghubungkan “pulau-pulau” tersebut. Dalam Matius 10:39-40, dikatakan “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Melalui injil ini, Tuhan ingin menyampaikan kepada kita untuk tidak memikirkan diri sendiri, namun bersama-sama membangun “jembatan” yang menghubungkan “pulau-pulau”. memberikan ruang terhadap diri sendiri dan orang lain, termasuk orang-orang yang tidak mampu. Inilah yang harus menjadi dasar misi Injil komunitas. Meskipun perjuangan tersebut cukup berat, hendaknya kita tetap patuh kepada Allah dan meyakini bahwa usaha ini akan berhasil pada waktunya. Hal yang ditekankan oleh Andrea adalah bahwa kebahagiaan tidak mungkin dimiliki oleh diri sendiri, namun ia akan berbuah jika dibagikan kepada orang lain.
Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa orang yang tidak mampu adalah sakramen Kristus, di mana Yesus hadir melalui wajah mereka. Hendaknya kita menjunjung prinsip kesetaraan, misalnya dengan memanggil nama mereka.
Kita semua hendaknya memiliki peran nyata di masyarakat dalam membagikan damai, membangun kehidupan doa, dan menjalin persahabatan dengan orang lain sebagai suatu pekerjaan. Damai, menurut Andrea, memiliki arti hidup bersama orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Jangan pernah melibatkan senjata fisik dalam menyelesaikan permasalahan dunia, karena kita telah mempunyai doa sebagai “senjata yang menghidupkan”.
Selanjutnya, pada hari Sabtu, 14 November 2015, dalam meneguhkan peran menghidupkan dialog antara agama, Komunitas Sant’Egidio bersama dengan Center for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC) dan MPR-RI mengadakan forum bertajuk “Interfaith Dialogue For Peace And Coexistence” yang diselenggarkan di Gedung Nusantara V Jakarta. Acara tersebut dihadiri oleh Pendiri Komunitas Sant’Egidio, Andrea Riccardi, Ketua MPR-RI, Zulkifli Hasan dan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin. Selain itu turut hadir beberapa tokoh agama diantaranya Prof. Dr. Syafiq A. Mughni (PP Muhammadiyah), Uung Sendana (Matakin), Dr. Albertus Putti (PGI), Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja (Walubi), Nyoman Udayana Sangging (PHDI), dan Romo Agus (KWI).
Andrea Riccardi, melalui pidatonya, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap Indonesia terutama bahwa negara ini mampu melalui krisis-krisis menyangkut agama melalui Ideologi Pancasila. Pada saat ini sering terjadi aksi terorisme sering mengatasnamakan agama, namun kenyataannya terorisme adalah ideologi yang menghina nama Allah. Agama adalah sumber damai, sehingga terorisme harus disingkirkan dari nama agama, misalnya melalui dialog antar agama. Selain itu, Andrea juga menekankan penolakan hukuman mati dan perang, karena tidak ada agama yang mendukung pembunuhan sebagai metode pembentukan damai. Perang adalah induk dari kemiskinan, sedangkan damai adalah induk dari perkembangan. Dialog tidak hanya dalam bentuk diskusi semata, namun merupakan sebuah proses yang membutuhkan kesetiaan dan teman seperjalanan, sehingga keberadaannya penting dan akan terus dilakukan. Melalui diskusi yang berlangsung sekitar 2 jam ini, dapat disimpulkan bahwa:
  • Pemuka agama mempunyai peran untuk memberikan pemahaman tentang dialog antar-agama
  • Dialog dapat disebarluaskan melalui keluarga
  • Dialog berperan sebagai kerjasama konkret dalam pemuliaan bumi.
(Sumber pustaka: santegidio.org)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar